Seputarkuningan.com - 
Paguyuban Silihwangi Majakuning kembali melakukan pertemuan dengan para kepala desa, setelah sebelumnya melakukan pertemuan dengan kepala desa penyangga Gunung Ciremai di bagian utara. Kali ini, Paguyuban Silihwangi Majakuning mengadakan pertemuan bersama kepala desa dan KTH di wilayah bagian timur yang dilaksanakan di Taman Cisantana, Rabu (30/3/2022).

Pertemuan tersebut dalam rangka penguatan kelembagaan masyarakat dan manifestasi kedaulatan pengelolaan Hutan Taman Nasional Gunung Ciremai (HTNGC) serta menyikapi statement penolakan adanya Zona Tradisional dari salah satu LSM di Kabupaten Kuningan  yang mengatasnamakan warga yang peduli terhadap kelestarian Gunung Ciremai.

Dalam pertemuan tersebut di sepakati lima poin, pertama menyatakan bahwa pemerintahan desa atas nama masyarakatnya sudah mengajukan usulan dibukanya zona tradisional di Gunung Ciremai kepada Kepala Balai TNGC. Kedua memohon kepada kepala balai TNGC dan Dirjen KSDAE untuk  memproses perubahan zonasi, sehingga pengelolaan TNGC akan lebih optimal dengan adanya kolaborasi kemitraan yang kompreshensif dengan masyarakat penyangga dan pemerintah desa.

"Poin ketiga yaitu  agar pihak Balai TNGC mengutamakan keinginan dan usulan masyarakat desa penyangga Gunung Ciremai," ungkap Eddy Syukur selaku KTH Jawa Barat.

Kemudian yang keempat, adalah proposal kemitraan konservasi berupa pemungutan HHBK agar segera ditindaklanjuti dengan Perjanjian Kerja Sama, dan para kepala desa akan mengawal dengan maksimal proses tersebut.

"Dan yang terakhir,  mendukung sepenuhnya  Kepala Balai TNGC beserta jajaran, untuk melaksanakan kebijakan serta program balai TNGC untuk terciptanya tata kelola kawasan yang ideal, sehingga hutan lestari masyarakat lebih sejahtera," papar Edy.

Disamping itu, Eddy juga menjelaskan bahwa untuk pola kemitraan konsevasi ini, menganut prinsip kehati - hatian, karena ketika warga yang berperan pasti menjaga kawasan hutan, jangan sampai terjadi persepsi akan terjadi kerusakan hutan karena ulah masyarakat. karena konsep HHBK itu memperhatikan kelestarian alam dan tidak merusak lingkungan.

"Yakin masyarakat tidak hantem kromo, pasti ada kehati - hatian dan selektif, karena masyarakat di zona penyangga ini bertanggungjawab untuk itu, bukan orang kota, mereka yang hidup disana,"kata  Eddy.

Kemudian untuk penyadapan juga tidak sembarang, lanjut Eddy, tentu dengan prinsip adanya pelatihan, kemudian harus diberi alat, penyadapan tidak hantam kromo, harga stabil, dan  melestarikan kawasan sekaligus menjaga.

Pro kontra bagi Eddy sangat wajar, semua berhak menolak dan menerima, tapi sekarang HHBK bisa diambil dengan adanya zona tradisional, sedangkan saat ini belum ada tempat belum ada regulasi sudah ribut dan saling mengancam dan sebagainya.

"Kehidupan kita kan berbeda, orang gunung ya cari kehidupan di gunung, orang pantai ya ke laut,"imbuh Edy.

Bagi Eddy keributan saat ini ibarat meributkan telor tapi belum ada ayam dan kandangnya. Sedangkan kehidupan masyarakat di wilayah penyangga ini baru memiliki harapan kembali untuk meningkatkan perekonomian. 

"Ini ribut ibarat pepesan kosong, kalau tidak setuju mari kita duduk bersama, belum apa - apa sudah ribut," kata Eddy.

Ramai hadirnya PT. Niraya, menurut Eddy karena pengelolaan getah pinus dilakukan oleh perusahaan tersebut,. sedangkan masyarakatlah yang melakukan penyadapan di jual kesana.

"Masyarakat mau berusaha itu kan harus ada pasarnya dulu, buat apa masyarakat mau melakukan penyadapan kalau tidak ada pasarnya," ujar Eddy. 

Sementara, Sekretaris  Paguyuban Silihwangi Majakuning, Jejen, menambahkan, niat yang baik, masyarakat Majalengka - Kuningan (Majakuning) dipersatukan dengan adanya Gunung Ciremai. terutama keinginan masyarakat atau kelompok tani hutan yang memiliki potensi Hasil Hutan Bukan Kayu, untuk adanya perubahan zonasi yaitu zona tradisional.

"Untuk itu kita harus satu visi dan misi dan saling menjaga dan menghargai. Adanya penolakan dari LSM Akar juga harus kita hargai, karena berpendapat adalah hak tiap warga negara dan  dilindungi undang undang. Kami menyatakan sikap dan mendukung adanya Zona Tradisional," pungkas Jejen. (Elly Said)


Share To:

Iin Suheli

Post A Comment:

0 comments so far,add yours