Seputarkuningan.com - 
Buku karya Ketua DPRD Kabupaten Kuningan Nuzul Rachdy berjudul "Tetirah Sang Pencerah" dibedah, Sabtu (5/3/2022) di Obyek Wisata Woodland Kuningan. Bedah buku Tetirah Sang Pencerah ini menghadirkan Prof. Dr. I Gede Pantja Astawa, SH,MH seorang guru besar Fakultas Hukum Unpad, Drs. KH Dodo Syarif Hidayatullah Ketua MUI Kabupaten Kuningan dan Dr. Niknik M Kuntarto seorang ahli bahasa.

Buku ini merupakan autobiografi dari sosok Nuzul Rachdy, yang menceritakan perjalanan hidupnya mulai dari usia anak-anak, remaja hingga saat ini. Bahkan, ketika mengalami goncangan dengan adanya kasus diksi limbah pun dituangkan dalam buku ini.

Ketua MUI Kabupaten Kuningan KH Dodo Syarif Hidayatullah menyampaikan, buku ini menjadi karya monumental yang mengabadikan perjalanan hidup yang dilalui Nuzul Rachdy baik manis maupun pahit getirnya.

"Buku ini dapat menginspirasi dan memberikan pencerahan kepada pembacanya juga menjadi pelajaran dan nasihat bagi semua," ujar KH Dodo.

Sementara itu, 2 narasumber lainnya menceritakan asal usul terbitnya buku Tetirah Sang Pencerah ini. Niknik M Kuntarto sebagai ahli bahasa sekaligus editor buku tersebut menyampaikan, bahwa dirinya hanya melakukan koreksi terhadap hasil tulisan Nuzul Rachdy.

Pada kesempatan yang sama, Nuzul Rachdy, menyampaikan bahwa buku tersebut sudah terbit sekitar 1 tahun yang lalu. Hanya saja, pada saat itu dirinya masih dalam kondisi terombang ambing akan statusnya dengan adanya kasus diksi limbah.

"Alhamdullilah, hari ini bertepatan dengan hari ulang tahun yang ke-61 dapat mengundang rekan-rekan mahasiswa, pers dan tokoh-tokoh masyarakat dalam acara bedah buku Tetirah Sang Pencerah. Sebenarnya, buku ini sudah diterbitkan 1 tahun yang lalu. Hanya saja pada saat itu posisi saya masih terombang ambing antara bisa bertahan atau tidak bertahan sebagai ketua DPRD," jelas Nuzul.

Nuzul menambahkan, baru tiga bulan belakangan ini dirinya mengaku sering mendapat undangan diskusi dari beberapa organisasi mahasiswa untuk berdiskusi mengenai wawasan kebangsaan dan lainnya.

"Kasus diksi limbah ini bisa menjadi pelajaran buat diri saya sendiri maupun yang lainnya. Akhirnya baru sekarang buku ini dibedah dan juga dilaunching. Saya mengutip kata-kata seorang sastrawan bahwa sepandai-pandainya orang, setinggi-tingginya pengalaman kalau tidak dituangkan dalam tulisan maka pengalaman itu akan hilang. Maka,saya tulis buku ini. Bukan karena luas pengalaman atau tingginya ilmu melainkan hanya menuangkan pengalaman hidup saya melalui tulisan," jelas Nuzul.

Nuzul juga menyampaikan terima kasihnya kepada semua pihak yang telah mensuport hingga buku ini dapat terbit. (Elly Said)




Share To:

Iin Suheli

Post A Comment:

0 comments so far,add yours