PEMUDA MUHAMMADIYAH KUNINGAN MINTA KAPOLRES TINDAK TEGAS ANGGOTA YANG PUKUL PENDEMO


Seputarkuningan.com - 
Saat aksi IMM di Depan Gedung DPRD sempat terjadi aksi dorong mendorong antara massa aksi dan petugas gabungan Polisi- Satpol PP, bahkan salah seorang mahasiswa mengaku dirinya menjadi korban pemukulan dari salah seorang polisi yang bertugas. Hal ini mengundang reaksi dari Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Kuningan.

Insiden pemukulan yang dilakukan oknum aparat kepolisian kepada salah satu mahasiswa peserta aksi dalam pengamanan aksi demonstrasi IMM siang tadi, di depan Gedung DPRD Kuningan, Kamis (16/12/2021) sangat bertolak belakang dengan Peraturan Kapolri No 07 Tahun 2012 tentang Tata Cara Penyelenggaraan Pelayanan, Pengamanan, dan Penanganan Perkara Penyampaian Pendapat di Muka Umum.

Dimana salah satu poinnya mengatur “Penindakan tegas massa aksi yang anarkis dapat dilakukan dengan menangkap dan diperlakukan secara manusiawi serta pemukulan massa aksi adalah bentuk pelanggaran, meski dengan dalih keadaan darurat dan terpaksa” 


Wakil Sekretaris Bidang Hikmah dan Hubungan Antar Lembaga Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Kuningan, Ilva Fahrurroji, sangat menyayangkan dan mengecam tindakan diluar prosedural dan represif penanganan aksi unjuk rasa IMM yang terjadi di depan Kantor DPRD Kuningan. Menurutnya, hal itu tak seharusnya terjadi ketika semua anggota kepolisian di Kuningan ini paham tentang protap Dalmas. 

"Setahu saya pendidikan di kepolisian tidak mengajarkan penanganan aksi ala premanisme, kejadian ini harus menjadi auto kritik ditubuh kepolisian Kuningan untuk segera membenahi diri," ujar Ilva kepada awak media.

Ilva menegaskan, harus adanya ketegasan dari pimpinan untuk menindak tegas anggotanya yang melakukan kekerasan dalam pengamanan aksi unjuk rasa siang tadi di Gedung DPRD Kuningan.

"Tidak hanya sanksi disiplin saja, tetapi perlu juga diproses pidana. Karena saya menilai konteks pemukulan kali ini merupakan dua persoalan yang berbeda antara aksi penyampaian pendapat dan hal pemukulan, supaya kedepan terdapat pelajaran bagi anggota kepolisian lainnya untuk selalu menjalankan tugas secara professional sesuai aturan," tegasnya. 

Ia menambahkan, jumlah demonstran bisa di hitung jari. 

"Masa iya sih dipandang berpotensi menimbulkan kekisruhan besar yang mengancam stabilitas keamanan, apalagi aparat yang bertugas jumlahnya hampir mendekati sama dengan jumlah masa aksi," pungkas Ilva. (Elly Said)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.