Seputarkuningan.com - 
Kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur kembali terjadi, kali ini seorang guru pengajar yang juga Pimpinan Pondok Pesantren Bina Qur'ani Dusun Sukamanah Desa Cisantana Kecamatan Cigugur harus berurusan dengan polisi karena diduga telah mencabuli 8 anak di bawah umur.

Korban merupakan murid yang sedang belajar di Ponpes Bani Qur,ani. Dari 8 korban, satu di antaranya merupakan alumni Ponpes tersebut, kedelapan korban adalah HDN (14) warga Kabupaten Kuningan, AW (18) warga Cirebon, RAB (13) warga Cirebon, HA (13) warga Karawang, FA (15) warga Cirebon, INF (15) warga Cirebon, MR (13) warga Tangerang dan FR (20) warga Cirebon.

"Dari 8 korban tersebut baru 3 orang korban yang telah membuat laporan kepada kami," ujar Kapolres Kuningan AKBP Doffie Fahlevi Sanjaya melalui Kasat Reskrim Polres Kuningan AKP M. Hafid Firmasyah yang didampingi Kasi Humas Polres Kuningan IPTU Carsa kepada awak media saat memberikan keterangan persnya, Jum'at (31/12/2021).

Tersangka sendiri adalah AH (38) warga asal dari Madura yang merupakan seorang guru pengajar sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Bina Qu'ani. 

"Kasus ini terungkap, ketika salah satu korban tidak terima ketika dirinya dicabuli oleh tersangka, kemudian menceritakannya kepada ibu korban. Ibu korban pun melaporkan perbuatan tersangka kepada kami," ujar Kasat.

Kejadiannya sekitar Bulan Oktober 2021 lalu, dengan modus memanggil para korban dengan waktu yang berbeda-beda untuk diajak ke dalam kamar tempat istirahat tersangka. Kemudian, kata Kasat, korban langsung memeluk, menciumi dan meraba-raba tubuh korban.

"Setelah melakukan perbuatannya, tersangka membujuk para korban dengan memberikan barang-barang seperti parfum, baju koko ataupun kaos. Nah, salah satu dari korban tidak terima dengan perlakuan tersangka, menceritakan kejadian tersebut kepada orang tuanya dan melaporkannya," kata Kasat.

Tersangka dijerat dengan pasal 82 ayat (1), (2) dan (4) UU RI No. 17 tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti UU No. 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU no. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi UU jo pasal 76E UU RI No. 35 tahun 2014 perubahan atas UU RI no. 23 tahun 2002 dengan ancaman hukuman minimal lima tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara.

"Karena tersangka merupakan seorang guru, maka hukumannya ditambah menjadi maksimal 20 tahun penjara dengan denda sebesar lima milyar rupiah," pungkas Kasat. (Elly Said)


Share To:

Iin Suheli

Post A Comment:

0 comments so far,add yours