HARGA PAKAN MELAMBUNG, HARGA TELUR TERHEMPAS


Seputarkuningan.com - 
Peternak ayam di Kuningan mengeluhkan anjloknya harga telur ayam di tingkat peternak. Sebelumnya, harga telur di tingkat peternak berkisar antara Rp 19.000 hingga Rp 20.000 per kilogram. Namun, sejak dua minggu yang lalu harganya terus merosot hingga saat ini menyentuh angka Rp 15.000 hingga Rp 15.500 per kilogramnya. 

Kondisi ini tentu saja berat bagi peternak ayam petelur. Pasalnya, harga pakan untuk ternak ayam petelur mengalami kenaikan. Saat ini, harga pakan ayam petelur berada di angka Rp 6.700 per kilogram yang sebelumnya hanya Rp 5.500 per kilogram.

Hal ini diungkapkan oleh salah seorang peternak ayam petelur, Ikhsan, yang memiliki kandang ayam di Desa Lengkong Kecamatan Garawangi. 

"Selama 1 bulan ini, kami mengalami masa-masa yang sulit apalagi dua minggu terakhir ini. Sudah harga pakan naik, tapi harga telur malah anjlok. Ini dikarenakan turunnya permintaan pasokan telur," kata Ikhsan kepada seputarkuningan.com saat ditemui di peternakan ayam petelur Desa Lengkong Kecamatan Garawangi, Rabu (22/9/2021).

Ikhsan mengaku hingga saat ini dirinya mengalami kerugian hingga puluhan juta. Bahkan, saat pemerintah mengucurkan bantuan PKH  yang salah satunya telur tidak juga berakibat naiknya harga telur.

"Kami hanya bisa pasrah dengan keadaan sekarang ini. Daripada telur menumpuk dan tidak terjual, akhirnya kami jual dengan harga yang sekarang," keluh Ikhsan.

Menurut Ikhsan, idealnya harga telur di tingkat peternak berkisar sekitar Rp 19.000- Rp 20.000 per kilogramnya. Dengan harga normal tersebut, Ikhsan menyebut dapat menutupi operasional dan mendapat keuntungan. Sedangkan, harga saat ini,kata Ikhsan, dirinya kesulitan untuk menutup operasional dan juga membayar karyawan.

Jika dihitung dari selisih harga jual Rp 19.500 dengan harga sekarang Rp 15.500, maka dirinya mengalami kerugian sekitar Rp 4.000 per kilogramnya. Dan, setiap hari ayam petelur yang dimiliki Ikhsan sebanyak 6.500 ekor dapat menghasilkan 6 kwintal telur setiap harinya.

"Berarti kerugian yang dialami sekitar Rp 2,4 juta setiap harinya. Dalam jangka waktu 1 bulan ini saya sudah mengalami kerugian sekitar Rp 72 juta. Bisa dibayangkan, berapa banyak kerugian yang kami alami jika ini terus berlangsung," ujar Ikhsan.

Ikhsan menambahkan, dirinya harus menggaji 4 orang karyawan dan membayar tanggungan ke bank. Jika harga telur terus seperti ini, dikhawatirkan banyak para peternak telur yang akan tutup.

Bahkan, kata Ikhsan, selama pandemi Covid-19, dirinya tidak pernah mendapat bantuan apa pun dari pemerintah. Ikhsan berharap, pemerintah daerah Kabupaten Kuningan dapat membantu para peternak ayam petelur dan dapat memberikan solusi bagi mereka. (Elly Said)




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.