INSENTIF DIBAYAR DARI KEMENKES, KE MANA UANG 3 M UNTUK INSENTIF?



 
Seputarkuningan.com - Tenaga kesehatan di rumah sakit dan puskesmas telah tiga bulan berjuang menangani pasien terpapar Coronavirus Disease atau Covid-19. Meski jadi garda terdepan jerih payah mereka belum ditunaikan oleh pemerintah. Penghargaan berupa insentif belum dibayarkan. Pemberian insentif  bagi tenaga kesehatan yang menangani corona telah ditetapkan dalam keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/278/2020. Besaran insentif diberikan bervariasi. Untuk dokter spesialis memperoleh Rp15 juta/bulan, dokter umum Rp10 juta, perawat dan bidan Rp7,5 juta dan tenaga medis lainnya Rp5 juta.

Direktur Utama RSUD 45 dr. Deki Saefulah mengatakan belum adanya kepastian aturan dari pemerintah pusat terkait pencairan dana insentif tenaga medis. Aturan pencairan insentif bagi tenaga medis terus berubah-ubah hingga pengajuan pun dilakukan revisi berulang kali.

"Kami sudah melakukan pengajuan untuk pencairan insentif ke pemerintah pusat melalui kemenkes, karena aturannya yang berubah-rubah maka pengajuan pun mengalami revisi beberapa kali," ujar Deki saat audiensi bersama ANARKIS, Selasa (17/6/2020).

Sementara itu, dalam anggaran Penanganan dan percepatan Covid-19 terdapat anggaran insentif tenaga medis sebesar 3 milyar rupiah ditanyakan, Deki mengaku bahwa dana sebesar 3 milyar rupiah yang dianggarkan untuk insentif tenaga medis belum digunakan karena insentif tenaga medis akan dibayar oleh pemerintah pusat.

Hanya saja, lanjut Deki, pihaknya memikirkan insentif bagi pegawai rumah sakit yang tidak dianggarkan mendapat insentif.

"Kami juga memikirkan pegawai lainnya yaitu ada clenaing service, supir ambulan, pegawai bagian laundry, bagian sterilisasi dan juga bagian gizi," imbuh Deki.

Pasalnya, para pegawai tersebut menurut Deki termasuk bagian yang rentan terpapar Virus Covid-19. Maka, pihaknya kemungkinan akan menggunakan anggaran sebesar 3 milyar rupiah tersebut untuk pemberian intensif bagi mereka.

Hal senada diungkapkan Direktur RSUD Linggajati dr. Edi Martono bahwa pihaknya pun akan melakukan hal yang sama untuk menganggarkan insentif bagi pegawai rumah sakit yang tidak mendapat anggaran dari pemerintah pusat.

Menurut Edi, besaran insentif bagi tenaga medis pun berbeda-beda karena ada rumus yang menentukan besarannya.

"Rumus tersebut dilihat dari jumlah hari tugas tenaga medis dan kasus per bulan yang ditangani. Makanya besarannya akan berbeda-beda. Itu aturannya. Akan tetapi, karena aturan masih terus berubah-rubah maka kami pun belum dapat memastikannya," ujar Edi. (Elly Said)


No comments

Powered by Blogger.