ANDI : KALAU PEMDA BUTUH DUIT, KAMI BUTUH MAKAN

Andi, salah seorang anggota Paguyuban Pasar Kepuh

Seputarkuningan.com - Protes terhadap penerapan sistem parkir elektronik di kawasan Pasar Kepuh Kuningan,  tak hanya datang dari para juru parkir, namun juga dari sebagian besar para  pedagang setempat. Mereka beranggapan dengan adanya e-parkir justru merugikan pihaknya.
" E-parkir itu merupakan salah satu bentuk kedzholiman terhadap para pedagang. Selama ini kami adem ayem saja, bahkan mendukung pemerintahan. Tapi dengan adanya e-parkir ini, kami sebagai masyarakat seakan-akan merasa dikhianati oleh pemerintah untuk kepentingan badan atau pihak tertentu," tegas Andi salah seorang anggota Paguyuban Pasar Kepuh kepada seputarkuningan.com, Senin (13/1/2020).
Andi menambahkan, penerapan e-parkir ini harus kembali dianalisa dari sisi regulasi, dampak lingkungan dan segi kelayakan. Andi mengaku selama ini dari pihak pengelola tidak pernah ada sosialisasi kepada para pedagang.
" Katanya mereka (pengelola-Red) profesional tapi saya lihat tidak ada profesionalisme,  sosialisasi apa yang mereka lakukan," ujar Andi.
Andi menyayangkan sikap Pemerintah Daerah yang membiarkan polemik e-parkir ini berlanjut.
" Kalau Pemda butuh duit, kami butuh makan. apa pun yang terjadi kami tetap menolak adanya e-parkir. Dan untuk kepentingan siapakah adanya e-parkir ini," ungkap Andi.
Sementara itu, salah seorang pedagang, Iyan, mengatakan dengan diterapkannya e-parkir pendapatan para pedagang di Pasar Kepuh menjadi berkurang.

Iyan, salah seorang pedagang di Pasar Kepuh

Iyan memprediksi sistem itu justru akan menambah kawasan tersebut semakin macet. Selain itu, apabila parkir penuh, pedagang yang memiliki kartu langganan terpaksa parkir di luar dan kembali harus bayar.
Adanya e-parkir justru akan menghambat arus kendaraan. Orang akan semakin malas ke pasar.
”Itu sama saja merugikan kami. Karena konsumen akan berkurang ketika diterapkannya e-parkir," ujar Iyan.
Iyan menilai, pemberlakuan e-parkir di pasar tradisional kurang tepat, karena pasar tidak seperti mall yang hanya dikunjungi orang-orang tertentu. 
”Semua kalangan kan di sini. Kebanyakan menengah ke bawah. Lebih baik seperti yang biasa sajalah,” ujar Iyan.
Iyan pun menegaskan, hampir 90% para pedagang di Pasar Kepuh menolak adanya e-parkir.
" Bukan masalah abodemen yang kami permasalahkan, tapi dengan adanya e-parkir ini konsumen akan berkurang dan pendapatan kami pun akan menurun," pungkas Iyan.(Elly Said)


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.