PERANG KOMENTAR DI MEDSOS BERAKHIR DAMAI


Seputarkuningan.com - Perang Komentar pada media sosial Facebook pada status akun bernama Apa Ukas hingga melibatkan dua kubu yaitu keluarga besar IPSI dan keluarga besar Banser berujung damai.
Sekedar informasi Apa Ukas adalah sosok dari Ukas Suharfaputra merupakan petinggi di Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Kuningan yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kuningan.

Sejak ramainya dunia maya dengan komentar pedas – pedas, bahkan hingga ancaman beberapa hari lalu, membuat kedua belah pihak bersiaga. Namun dikabarkan kemarin sore Bupati Kuningan Acep Purnama mempertemukan kedua belah pihak yaitu IPSI dengan Banser maupun GP Ansor di Pendopo, memediasi kedua belah pihak saling memaafkan dan berjalan sesuai harapan.

Hari ini, pemilik akun Sendal Jepit yang diketahui bernama Yayat Hidayat yang juga pemilik pesantren Da’arul Muhlisin Cisantana  itu, baru bertemu dengan Ukas Suharfaputra dikantornya.
Suasana hangat membuat komunikasi dua arah dari pihak IPSI dengan Yayat Hidayat mencairkan ketegangan yang telah terjadi beberapa hari ini. Dan akhirnya mereka mesepakati pedamaian dan tetap menjaga marwah NKRI harga mati.

Ukas Suharfaputra saat diwawancara menceritakan bahwa pihaknya ingin membangun kondusifitas, dengan koridor saling menghargai. Ketika ada pihak atau lembaga yang menganggu pihaknya tentu tidak diam. Berdasarkan permasalahan yang terjadi di dunia maya, lanjut Ukas, pihaknya menyimpulkan dengan berbagai pertimbangan telah menjadi korban public bullying dari pihak tertentu yang dilakukan secara masif maupun mainstream.

“Awalnya kami kemarin memang sedang menunggu (wait and see). Ada beberapa opsi yang kami persiapkan bersifat institusional yaitu langkah hukum, tidak hanya memperkarakan mereka yang memberikan public bullying saja, tapi juga memperkarakan media yang tidak bertanggung jawab,” jelas Ukas. Kamis (29/8/2019).

Disebutkan Ukas, ada dua atau tiga media yang sangat provokatif dan tidak mencerminkan kualitas etika jurnalistik, dan di bawah standar. Tentunya dia berharap para wartawan lokal itu tidak harus jongkok, tapi harus pintar. Maka dia meminta mereka bisa mengupgrade diri.

Kemudian, lanjut Ukas, langkah personal, yaitu pihaknya melihat siapa saja yang berkomentar di media sosial melampaui batas, dengan ucapan – ucapan. Tentu yang dilakukan yaitu klarifikasi. Apakah mereka katakan seperti yang dipikirkannya, atau memiliki persepsi tersendiri.

“Tentunya kami juga membuka ruang secara personal, jika ada yang ingin diselesaikan dengan kami. Jika perlu disesuaikan dengan “tempat dan waktunya”, seperti diatas ring tinju, atau diatas matras, yang tidak akan bersentuhan dengan hukum,” ujar Ukas.

Berjalannya waktu, lanjut Ukas, karena pihaknya masih mengedepankan pendekatan yang sifatnya personal, maka pihaknya masih menunggu itikad baik. Ternyata respon cepat dari Bupati melakukan mediasi antara pihaknya dengan Banser.

“Dan Alahamdulilah, kemarin secara resmi Banser dan Ansor menyampaikan permohonan maaf atas semua tindakan orang – orang di organisasi mereka yang tidak terkendali di Medsos,” kata Ukas.

Kemudian kedatangan pemilik akun “Sendal Jepit” dikantornya pun, Ukas mengaku senang dengan proses tabayun yang dilakukan. Bahkan kita akhirnya saling kenal satu sama lain, mengingat belum pernah berkenalan sebelumnya.

“Kami menganggap masalah ini selesai. Mari kedepan kita saling menghormati, tidak usah melakukan tindakan – tindakan yang diluar koridor. Dan kesepakatan ini juga harus meresap sampai kebawah. Termasuk di organisasi kita juga pastinya. Tapi apabila ada pihak yang tidak mengikuti berarti risikonya person to person, bukan atas nama organisasi,” jelas Ukas.

Hikmah dari permasalah ini, menurut Ukas, agar semua pihak jangan sampai merasa paling tinggi, merasa paling jago. Karena semua sama didepan bangsa ini, semua adalah anak – anak bangsa yang dituntut bertindak semangat dalam marwah nasionalisme.

“Jadi yang memiliki NKRI itu bukan hanya saya, si fulan, tapi semua memiliki NKRI, mari kita jaga bersama,” ujar Ukas.

Sementara, sesepuh IPSI, H. Andi menambahkan, atas nama keluarga besar IPSI berterima kasih kedatangan Yayat Hidayat untuk meminta maaf atas statmennya di media sosial belum lama ini. Dan tentunya setelah adanya permintaan maaf baik kemarin sore di pendopo yang difasilitasi Bupati dan kedatangan pak Yayat hari ini, semua berkomitmen jangan mengulang lagi statmen tidak pantas atau yang tidak perlu, sehingga memperkeruh keadaan.

“Mudah – mudahan ini menjadi pelajaran, bahwa kita semua di Kuningan bersaudara, keluarga sebagai sesama muslim. Dan setelah permintaan dua momentum penting itu, tapi harus dilaksanakan secara menyeluruh, kami juga akan patuh dan taat terhadap komitmen kami, ketika kami sudah memaafkan kami komitmen. Tapi kalau mereka memulai terus kami juga tidak bisa diam,” jelas H. Andi.

Sementara  Yayat Hidayat menyampaikan bahwa ada beberapa hikmah dari permasalahan tersebut, pertama yaitu ternyata negara ini masih dicintai seluruh rakyatnya, NKRI harga mati itu bukan hanya milik Banser, ataupun milik aparat, ternyata semua orang bahkan termasuk IPSI dalam hatinya tertanam kuat NKRI harga mati.

“Silahturahmi ini benar – benar membawa berkah, saya bisa kenal semuanya lebih dari itu, saya merasa berada ditengah keluarga, semua suadara, dan semua berniat menjaga kondusifitas kuningan ini,” jelas Yayat. (Elly Said)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.