PENDAKI GUNUNG CIREMAI PANIK LIHAT KEPULAN ASAP

Pendaki Gunung Ciremai yang panik saat melihat kepulan asap



Seputarkuningan.com – Pendaki asal Garut Jufah (18 tahun), Adi (29 tahun), dan Abas (26 tahun) yang melakukan pendakian Gunung Ciremai melalui jalur Palutungan, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, sejak Selasa, 6 Agustus 2019 dibuat panik saat berada di kawasan puncak usai melihat kepulan asap.

Hal itu diceritakan Jufah, pada saat itu ia bersama temannya sudah berada di kawasan puncak ketinggian 3.078 meter diatas permukaan laut (mdpl). Tidak lama, mereka mulai panik saat melihat kepulan asap di sekitar area Gua Walet.

“Pada saat melihat kepulan asap kami langsung turun karena dikhawatirkan apinya akan terus menyebar, begitu pula pendaki lainnya yang hampir sampai puncak tinggal beberapa menit lagi langsung turun ke bawah,” ujar Jufah, Kamis (8/9/2019).

Jufah menyebutkan, ketika turun semakin ke bawah kobaran api makin gede dan menyebar luas ke jalur pendakian.

“Kami juga sempat merekam titik kebakarannya, karena panik rekamannya tidak begitu lama hanya berdurasi sekitar 5 menit,” kata Jufah.

Diakui Jufah, dirinya bertemu petugas ketika sudah sampai di Pos Cigowong ketinggian 1.450 mdpl ketika petugas mengambil air.

“Kami mendaki Gunung Ciremai berangkat dari Pos Palutungan Selasa, 6 Agustus 2019 pagi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan Agus Mauludin mengatakan, sejak kemarin petugas sudah diberangkatkan untuk menyisir dan mengevakusi pendaki yang masih berada diatas.

“Secara luasan kami belum mengetahui, makanya sekarang diberangkatkan tim untuk melakukan mapping area sekaligus meminta para pendaki yang ada diatas untuk segera turun,” ujar Agus Mauludin.

Dikatakan Agus, selain mapping area. Petugas juga sekaligus membuat ilaran sekat bakar agar api tidak semakin menjalar ke lokasi lainnya, setelah hasil mapping petugas akan melaporkan kepada petugas di pos pantauan.

“Kami belum mengetahui kondisi persisnya seperti apa, apakah bisa dilakukan pemadaman secara manual atau membutuhkan teknologi lain. Kalau pun sulit dilakukan pemadaman secara manual, helikopter water boombing sudah kami siapkan,” kata Agus.

Hanya saja, lanjut Agus, untuk helikopter water boombing juga harus disiapkan lokasi landing dan pusat pengambilan airnya. Tak hanya itu, dari segi medan juga apakah memungkinkan untuk helikopter.

“Sebab sekarang posisi kebakarannya hampir mendekati kawasan puncak, jadi kami harus pelajari arah dan kecepatan anginnya seperti apa. Hingga siang ini prakiraan luasan sudah mencapai 300 hektar,” ujarnya. (Agus Maulani)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.