KETUA DPRD KUNINGAN AKUI ANGKA KEMISKINAN MASIH TINGGI



Ketua DPRD Kabupaten Kuningan Rana Suparman

Seputarkuningan.com – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kuningan menanggapi persoalan kasus Jodi yang menjadi salah satu fenomenal potret kemiskinan. Bahwa dari laporan Bupati Kuningan Acep Purnama angka kemiskinan di Kuningan masih tinggi.

Tingginya angka kemiskinan, Ketua DPRD Kuningan Rana Suparman menyebutkan, bahwa untuk menurunkan derajat angka kemiskinan di Kuningan harus menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah melalui APBD pun harus tepat sasaran, tepat arah dan terkawal sehingga secara utuh bisa tersampaikan kepada masyarakat.

“Pak bupati sudah melaporkan kepada kami, angka kemiskinan di Kuningan masih diatas sepuluh persen. Bohong besar, kalau ada satu daerah tidak memiliki problematika kemiskinan. Semua daerah pasti ada, hanya saja untuk Kuningan terangkat oleh kasusnya Jodi yang menjadi viral di media sosial,” ujar Rana Suparman.

Mencuatnya derita Jodi, lanjut Rana, pemerintah daerah langsung meresponnya. Langkah konkret jangka pendeknya pemenuhan kebutuhan dasar serta program APBD yang harus tepat sasaran dan konsentrasi.

“Melalui budgeting, kami akan memformulasikan sehingga dalam pembahasan APBD lebih serius lagi menanyakan perihal penanganan kemiskinan dan pengangguran. Sebab kemiskinan juga ada yang terstruktur, disitulah pemerintah memiliki peran untuk memutus mata rantai kemiskinan. Kami juga akan membedah dari sisi pagu anggaran untuk menanggulangi kemiskinan yang muncul di permukaan,” kata Rana.

Sementara itu, Bupati Kuningan Acep Purnama mengatakan, pihaknya akan menangani kasus seperti Jodi satu persatu. Sebetulnya masih banyak di tempat lain, begitu tahu akan langsung ditangani.

“Kasus yang tidak diketahui pun sebetulnya sudah ada penanganan standar seperti bidang kesehatan, saya sudah menugaskan puskesmas. Dari sisi ketahanan pangan, kami juga menugaskan intansi tersebut untuk membagikan jaminan pangan termasuk pendidikannya. Saya tidak ingin ada anak usia sekolah yang tidak tersekolahkan hanya karena biaya, kecuali anaknya yang tidak ingin sekolah kita akan kesulitan meskipun diusahakan agar mau bersekolah,” ujar Acep Purnama. (Agus Maulani)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.