GAMAS : VISI AGAMIS PEMKAB KUNINGAN HARUS DIPERTEGAS




Seputarkuningan.com - Visi Kabupaten Kuningan, Maju, Agamis dan Pinunjul berbasis Desa, mendapat tantangan dengan maraknya kemaksiatan yang sudah mencapai level mengkhawatirkan di kalangan generasi muda di Kuningan. 

Terkait, viralnya video tak pantas yang dilakukan oknum pelajar di salah satu sekolah di Kecamatan Japara, kabupaten Kuningan, Organisasi Kemasyarakatan Gerakan Anti Maksiat (Gamas) berpendapat bahwa, semua yang terlibat harus diberi sanksi untuk memberikan efek jera.

" Berikan sanksi yang tegas, kepada oknum pelajarnya, pihak sekolah dan kedinasannya. Perbuatan mereka sudah diluar kewajaran dan jika didiamkan akan semakin marak dan berani, " kata Ketua Gamas K Nana Nurudin kepada Seputarkuningan.com, Jumat (15/2/2019).

Pihaknya memandang, jika benar Pemkab Kuningan mau mempertegas Visi Agamis, yang selama dua periode ini tetap dipertahankan, kini saatnya untuk membuktikan kepada masyarakat, agar lebih berani membuat aturan tegas untuk memberantas kemaksiatan.

Visi Agamis, imbuh Nana, itu cerminan kehidupan masyarakat yang menjalankan nilai-nilai agama dengan benar. Bukan hanya amar ma'rufnya saja, tapi nahi munkar juga adalah bagian dari menegakkan nilai-nilai luhur agama. 

" Menyelenggarakan majelis-majelis pengajian, sudah oke, tapi pencegahan terhadap kemunkaran, belum kami lihat dalam program Pemkab Kuningan. Jangan tunggu bencana datang, baru kita sadar bahwa memang sumbernya dari kemaksiatan yang kita biarkan, " ungkap K Nana. 

Kekhawatiran Gamas dengan maraknya kemaksiatan saat ini menjadikan topik bahasan  dalam pertemuan rutin Organisasi Kemasyarakatan Islam, Gerakan Anti Maksiat (GAMAS) Kabupaten Kuningan, Jum'at (15/02/2019) malam di Sekretariat Gamas, Jalan Raya Purwasari, Kecamatan Garawangi.

" Dalam diskusi rutin ini, kami membahas maraknya kemaksiatan yang semakin berani dan terbuka di Kuningan. Dalam waktu dekat, Kami akan bertemu beberapa pihak agar masalah ini bisa diperhatikan dan segera diambil langkah kongkrit untuk mengatasinya, "ujar K Nana.

Beberapa contoh kemaksiatan yang menurutnya mendesak untuk diminimalisasi adalah maraknya fenomena muda-mudi berduaan hingga melakukan hal-hal yang melanggar norma agama di berbagai tempat, seperti di lokasi-lokasi wisata, di sekolah, bahkan di pelataran masjid sekalipun.

" Pengelola tempat-tempat wisata perlu ditegur karena telah berdiam diri dijadikan tempat-tempat maksiat. Jangan hanya mengambil untungnya saja, sementara kerusakan moral generasi muda kita, seolah dianggap umum dan wajar, " tegas K Nana. (Elly Said)


1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.