HARGA CABAI RAWIT ANJLOK CAPAI RP 2.500/KG, PETANI LOKAL PASRAH

Kusma, salah seorang petani cabai rawit di Desa Cihirup
Seputarkuningan.com - Anjloknya harga cabai rawit di pasaran hingga 200 % membuat para petani cabai mengalami kerugian yang cukup besar. Akibatnya, para petani membiarkan cabai hasil panenya membusuk.

Seperti diungkapkan salah seorang petani cabai rawit Kusma (51)  di Desa Cihirup, Kecamatan Ciawigebang, harga cabai rawit di tingkat petani saat ini hanya Rp 2.500 saja per kilogramnya. Kusma pun terpaksa menunda menjual cabai rawit di ladangnya ke pengepul sekalipun sudah memasuki masa panen.

"Kalau dijual sekarang kami rugi besar. Hasil penjualan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan mulai dari tanam, pupuk hingga panen," kata  Kusma saat ditemui di kebun cabai rawitnya di Dusun Kliwon, Kamis (11/1/2019).

Kusma menjelaskan, untuk biaya tanam cabai rawit di ladang seluas 100 bata mencapai Rp 7 juta. Dengan harga cabai rawit sekarang hanya Rp 2.500 per kilogram dan hasil panen sekitar 2 kwintal, maka penjualan cabai rawit sekarang hanya sekitar Rp 500.000 saja, atau masih jauh dari modal yang dikeluarkan.

"Bahkan biaya yang dikeluarkan untuk panen saja belum nutup. Hitung saja, biaya pekerja Rp 50.000 perorang sedangkan hasil petik sekitar 12,5 kilogram saja yang kalau dikali Rp 2.500 per kilogram, maka sudah bisa dihitung hanya Rp 31.250. Ini belum ditambah pengeluaran makan, kopi dan rokok,"ucap Kusma.

Selain itu, kondisi saat ini diperparah dengan serangan hama lalat buah yang menyebabkan cabai rawit di ladangnya banyak yang busuk dan berguguran. 

"Sudah hasil panen sedikit, harganya pun jatuh. Terpaksa kami biarkan tanaman cabai kami sampai harganya stabil supaya kami tidak rugi banyak," ungkap Kusma.

Kusma menduga karena banyaknya pasokan dari luar daerah masuk ke pasar Kuningan hingga menyebabkan anjloknya harga cabai di petani lokal.  Salah satunya adalah kiriman dari daerah Maja yang konon mempunyai kualitas cabai rawit lebih baik.

"Kami hanya bisa berharap harga cabai rawit bisa kembali normal secepatnya. Kami juga meminta ada perhatian dari pemerintah untuk bisa menyiasati cabai rawit petani lokal Kuningan bisa mendominasi pasar Kuningan dan mengerem pasokan dari luar," harap Kusma.

Sementara itu di tempat terpisah, Kaur Ekbang Desa Cihirup Amu Taruman mengatakan, anjloknya harga cabai rawit cukup berdampak pada kelangsungan usaha para petani di Cihirup yang mempunyai luas lahan ladang cabai mencapai 30 hektare. Selain sukma, banyak petani cabai rawit yang memilih membiarkan tanaman cabainya yang siap panen begitu saja karena tak mau rugi.

"Semuanya berharap harga cabai rawit bisa kembali bagus yaitu di atas Rp 16.000 per kilogram. Dengan harga tersebut, minimalnya hasil penjualan bisa menutup modal dan bisa sedikit bisa dibawa pulang untuk makan keluarga," ungkap Amu.

Terkait serangan hama lalat buah, Amu mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan tim penyuluh dari Dinas Pertanian melakukan antisipasi dan penanganan. Salah satunya membuat perangkap menggunakan obat Petrogenol untuk menarik lalat jantan sehingga memutus perkembangbiakannya. (Elly Said)




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.