TAK ADA BIAYA, RIZKI TERANCAM ALAMI KEBUTAAN TOTAL


Seputarkuningan.com - Sungguh memprihatinkan nasib Rizki Aditia (5) anak bungsu pasangan Mimin Surmi (33) dan Dadang Juanda (31) warga Desa RT 1/2, Desa Sindangsari, Kecamatan Sindangagung, yang mengalami gejala kebutaan sejak masih berusia 1,5 tahun. Kondisi ekonomi kedua orang tuanya yang serba kekurangan, menyebabkan kedua mata Rizki tak juga mendapat pengobatan yang optimal hingga kondisinya kini semakin cekung dan terindikasi mengalami kebutaan total.

Kedua orang tuanya hanya bisa pasrah dengan keadaan yang menimpa anaknya. Ibunda Rizki tak henti-hentinya menangisi nasib yang dialami anak bungsunya tersebut. Mimin menceritakan, awal mula kemalangan yang dialami anak bungsu dari tiga bersaudara tersebut sejak masih berusia 1,5 tahun, tak lama setelah Rizki mengalami demam tinggi.

"Sakit panas Rizki saat itu hanya sehari saja, dan besoknya sudah mendingan. Namun saya kaget setelah beberapa lama melihat kondisi mata Rizki seperti ada selaput putih menutupi bagian hitam matanya, kemudian saya pun kembali mengajak suami untuk membawa Rizki berobat ke RSU 45 Kuningan," ujar Mimin kepada Seputarkuningan.com, Minggu (28/10/2018).

Dari hasil pemeriksaan dokter mata saat itu, lanjut Mimin, penanganan Rizki harus dirujuk ke Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung. Karena pendapatan suaminya dari jualan mi ayam kala itu sangat minim, menyebabkan Mimin belum bisa membawa Rizki berobat ke Cicendo karena membayangkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk operasi dan biaya selama menunggu di rumah sakit didapat dari mana.

Begitu pun saat Mimim dan keluarga kecilnya mendapat bantuan Kartu Indonesia Sehat (KIS) dari pemerintah pusat sekitar dua tahun yang lalu, kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan belum bisa membawa Rizki untuk mendapatkan pengobatan optimal. Penghasilan sang ayah yang kini berputar haluan menjadi pencari ikan di sungai, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja dan tak memungkinkan untuk membawa Rizki ke Cicendo hingga sekarang.

"Saya sempat memanfaatkan bantuan KIS membawa kembali Rizki ke RSUD '45 sekitar dua tahun yang lalu, dan kembali dokter merujuk pengobatan Rizki harus ke RS Cicendo. Dokter sudah bilang pengobatan dijamin gratis. Tapi saya tidak punya uang untuk bekal di sana, bahkan untuk ongkos berangkat ke Bandung pun tak ada," ujar Mimin sambil berurai air mata.

Saat ini usia Rizki sudah lima tahun. Kondisi mata sebelah kiri Rizki tampak lebih cekung dibanding yang kanan karena sering ditekan-tekan oleh tangannya sendiri. Kalau dilihat secara kasat mata, kata Mimin, kondisi mata Rizki saat ini seperti tertutup selaput putih. Namun demikian, saat diperiksa dokter dengan menggunakan senter ternyata mata Rizki memberikan respon mengikuti arah cahaya senter tersebut dan dokter mengatakan masih ada harapan.

"Kondisi ini yang membuat saya masih bersemangat untuk mencari cara agar anak saya bisa tertolong dan bisa melihat lagi. Jika harus mata saya didonorkan pun saya rela," ucap Mimin.

Namun, kembali Mimin mengeluhkan kondisi keuangan yang serba sulit sehingga hanya bisa pasrah kepada Tuhan dan hanya bisa berusaha melakukan pengobatan alternatif untuk kesembuhan anaknya tersebut. Salah satu cara yang pernah dilakukannya adalah dengan meneteskan air zam-zam pemberian tetangganya yang baru pulang haji atau umroh ke mata Rizki. Mimin yang kini tinggal di rumah orang tuanya sangat berharap ada bantuan dari pemerintah ataupun dermawan yang bisa meringankan beban penderitaan anaknya tersebut. (Elly Said)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.