MISBAH, POTRET KEDZALIMAN DAN KRIMINALISASI GAKKUMDU

Kompak Bersatu saat di LP Cijoho


Seputarkuningan.com - Kompak bersatu Kuningan merasa prihatin terhadap kejadian yang menimpa Misbah (56) seorang tukang ojeg sekaligus Sekretaris DPC PAN Kecamatan Darma yang harus berada di balik terali besi karena terlibat kasus money politic. Misbah harus menjalani hukuman selama 6 bulan penjara karena terbukti bersalah telah melakukan money poiltic dan denda sebesar Rp 200 juta rupiah subsider 1 (satu) bulan penjara.

 Pada Selasa (24/4/2018), Kompak Bersatu mengunjungi Misbah yang berada di Lapas Cijoho sekitar pukul 10.00 Wib. Tampak massa dari Kompak Bersatu membentangkan spanduk di depan LP Cijoho dengan tulisan " MISBAH SEORANG TUKANG OJEG KORBAN KEDZOLIMAN DAN KRIMINALISASI GAKKUMDU. DIMANAKAH RASA KEADILAN NEGERI INI....25 RIBU HARUS DITEBUS DENGAN 6 BULAN KURUNGAN DAN DENDA 200 JUTA??? " .

" Alhamdulillah Pak Misbah dalam kondisi baik-baik saja. Beliau terlihat pasrah dan ikhlas menjalani hukumannya. Kami terus akan memberikan suport kepada beliau agar dapat menjalani semuanya," kata salah satu wakil dari Kompak Bersatu Mulyana Latif kepada Seputarkuningan.com.

Mulyana mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap kasus yang menimpa Misbah ini. Menurut Mulyana apa yang terjadi terhadap Misbah bukanlah penegakan hukum yang adil.  Dalam UU nomor 10 tahun 2016 pasal 187 A yang berbunyi :
(1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan melawan hukum menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya sebagai imbalan kepada warga negara Indonesia baik secara langsung ataupun tidak langsung untuk mempengaruhi pemilih agar tidak menggunakan hak pilih, menggunakan hak pilih dengan cara tertentu sehingga suara menjadi tidak sah, memilih calon tertentu, atau tidak memilih calon tertentu sebagaimana dimaksud pada Pasal 73 Ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 36 (tiga puluh enam) bulan dan paling lama 72 (tujuh puluh dua) bulan dan denda paling sedikit Rp 200.000.000 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000 (satu miliar rupiah).

(2) Pidana yang sama diterapkan kepada pemilih yang dengan sengaja melakukan perbuatan melawan
hukum menerima pemberian atau janji sebagaimana dimaksud pada Ayat (1)

" Pasal 1 dan 2 adalah merupakan satu kesatuan. Tapi kenapa di kasus Pak  Misbah hanya pasal 1 yang dipakai sedangkan pasal 2 sebagai penerima tidak dikenakan. Hal inilah yang membuat kami prihatin seandainya bicara keadilan. Seharusnya yang menerima pun ikut terlibat jika berbicara keadilan," tukas Mulyana.

Mulyana menambahkan, sebagai bentuk keprihatinan terhadap Misbah maka Kompak Bersatu memberikan santunan kepada keluarganya. " Pak  Misbah adalah seorang tukang ojeg dengan penghasilan yang sangat pas pasan dan menghidupi keluarga besar 5 orang anak dan 2 yatim di rumahnya. Subhanalloh, kami sendiri belum tentu mampu seperti Pak Misbah,  maka dengan kondisi inilah hati kami tergerak untuk terus menyuarakan keadilan bagi beliau dan menolongnya untuk meringankan beban keluarganya. Selama menjalani hukuman maka keluarga Misbah adalah jadi tanggungan kami, Insya Allah," terang Mulyana.

Untuk GAKKUMDU, Mulyana atas nama Kompak Bersatu   menghimbau untuk tidak lagi membuat Misbah-Misbah lain yang harus mendekam di penjara.  " Cukup hanya Pak Misbah sebagai korban kedzoliman dan kriminalisasi kelompok pelapor yang kurang bertanggung jawab yang menjadikan kasus ini hanya sekedar untuk kepentingan sesaat masa Pilkada. Jangan pernah terulang kembali hal serupa hingga akan memicu situasi kurang baik di Kabupaten Kuningan ini," tegas Mulyana.
(Elly Said)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.