MASIH DI PENGUNGSIAN, WARGA DILANDA KEJENUHAN

Suasana pengungsi di SMK Samiudin Cipakem
Seputarkuningan.com - Telah genap satu bulan, warga Dusun Cigerut Wetan Desa Cipakem Kecamatan Maleber tinggal di pengungsian. Sebanyak 164 jiwa dari 53 Kepala Keluarga (KK), sehari-hari hanya bisa berdoa dan berharap supaya kehidupannya kembali normal seperti sediakala.

Para Pengungsi merasa bingung, antara memaksakan diri pulang kampung tetapi khawatir ada longsor susulan, atau memilih diam di pengungsian ditemani rasa jenuh dan gelisah karena rindu tanah kelahiran. Akibatnya, kekhawatiran yang cukup dalam dan kerinduan itu bercampur bergejolak, melahirkan ketidakberdayaan.

“53 KK ini sisa,  22 KK yang ngontrak rumah, dan 8 KK yang merantau. Mereka juga mau ngontrak rumah seperti yang lain, tapi apalah daya untuk bayar bulanannya dari mana. Mereka tidak mampu,” kata Sofyan, salah satu pemuda yang bertugas mengurus pengungsi di SMK Samiudin Plus Cipakem, Minggu (25/3/2018).

Sejak, satu bulan yang lalu tepatnya Senin (26/2/2018) seluruh warga Dusun Cigerut Wetan mengungsi di SMK Samiudin Cipakem. Mereka terdampak bencana longsor dan pergerakan tanah selama musim hujan tahun ini. Selain Warga Cigerut Wetan, hal serupa juga dialami warga Cigerut Kulon Desa Cipakem. Hanya saja, warga Cigerut Kulon yang semula diungsikan di balai desa, saat ini sudah tersebar ngontrak rumah dan tinggal bersama sanak keluarga terdekat.

“Jumlah keseluruhan KK Cigerut Wetan ada 84 KK, tapi yang ngungsi ada 53. Sisanya numpang bersama kerabat, ngontrak rumah, dan merantau,” tutur Sofyan.

Sofyan menegaskan, warga yang masih mengungsi itu hanya berharap rumah hunian sementara, segera datang dan segera dibangun. Seluruh warga sangat merindukan hidup normal, berkumpul dengan keluarga sebagaimana sebelumnya. Setidaknya, hunian sementara bisa mengobati traumatic dan kegelisahan warga yang selama ini kaku di pengungsian.

“ Sampai saat ini hujan terus turun walaupun intensitasnya tidak seperti dulu lagi. Jujur saja, semuanya khawatir dan tidak mau kalau harus pulang ke rumah lagi,” kata Sofyan.

Sofyan juga menerangkan, selama sebulan itu aktivitas pengungsi terbagi-bagi. Khusus perempuan dan anak, siang dan malam mereka standby di pengungsian. Sementara para kepala keluarga atau suami siang hari pergi ke kampung untuk mengurus ternak dan pertanian. Kemudian di malam harinya, para lelaki terjadwal siskamling menjaga keamanan kampung yang ditinggalkannya.

“Khusus lelaki dijadwalkan juga ngambil kayu bakar untuk alat masak di dapur umum. Sehari enam orang,” kata Sofyan.

Selain Sofyan, salah satu petugas pengungsi lainnya, Jejen menerangkan, selama genap sebulan itu pengungsi mendapat perhatian penuh dari pemerintah dan lembaga yang mengulurkan tangan memberi bantuan. Pihaknya berterimakasih atas kepedulian seluruh warga yang sudah berkenan memberikan bantuan baik dalam bentuk uang, sandang, dan pangan.

“Alhamdulillah atas bantuan semua pihak kepada kami. Harapan kami sekarang adalah segera dibangun Huntara. Supaya kami bisa tenang, berkumpul bersama keluarga,” kata Jejen. (Elly Said)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.