FILM INDONESIA DIANGGAP BELUM CERMINKAN BUDAYA NASIONAL



700 siswa saat nonton bareng di Gedung Sanggariang
Seputarkuningan.com -  Banyaknya film-film produksi Indonesia yang diputar di gedung bioskop maupun lewat tayangan televisi, dianggap  belum mencerminkan keragaman budaya daerah secara nasional, namun lebih cenderung  menampilkan budaya asing yang dinilai kurang pas untuk ditonton oleh kalangan pelajar.

Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa ini, memiliki nilai-nilai budaya tidak kalah menarik dibanding seni budaya luar. Sejak zaman dulu, Indonesia dikenal sebagai orang timur yang memiliki karakter saling menghargai, membangun jiwa kesatuan dan persatuan, menjunjung tinggi toleransi kehidupan beragama, berbangsa, bernegara dan bermasyarakat dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Karena itu,  Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kuningan menggelar kegiatan nonton bersama masyarakat, khususnya kalangan pendidik dan siswa. Penayangan film “Aisyah Biarkan Kami Bersaudara” ini diikuti oleh 700 siswa dari kalangan SD dan SMP, di Gedung Sanggar Riang, kemarin.

Tidak hanya siswa yang menikmati hiburan segar penuh tuntunan itu,  Kepala Disdikbud Kabupaten Kuningan, H Dian Rachat Yanuar  beserta jajarannya larut dalam suasana film sarat akan budaya nasional itu.

“Film tersebut dinilai Kemendikbud sangat baik untuk mengajarkan nilai-nilai toleransi, kerja sama dan saling menghargai. Guru bisa menggunakan film ini sebagai media pembelajaran di sekolah. Bisa saja jika di Kuningan ada gedung bioskop, guru dan siswa dapat menontonnya sebagai media pembelajaran,” kata Kepala Bidang Apresiasi dan Tenaga Perfilman Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud, Gupri.

Gupri pun  menyatakan kesiapannya untuk memberikan pelatihan berupa workshop pembuatan film bagi pelajar. Misalnya dari mulai tata artistik, penyutradaraan dan sebagainya.
“Silahkan para siswa Kuningan membuat film-film pendek atau dokumenter untuk diikutsertakan dalam festival film karya pelajar yang ada di Indonesia,” ujar Gupri.

Sementara itu di tempat yang sama, salah satu siswi kelas IX SMPN 2 Kuningan Gista dan Nesa,  menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, pelajar itu perlu mendapatkan tontonan film yang bersifat mendidik serta mengangkat budaya daerah secara nasional. Karena itu diharapkan pemerintah bisa berperan untuk menyuguhkan tontonan mendidik yang dapat memberikan manfaat bagi para remaja sebagai bekal hidup di masa mendatang.

“Kita jangan malu nonton film Indonesia yang banyak mengandung unsur budaya, saling menghargai, kebersamaan dan lain-lain dalam kehidupan remaja sesuai nilai-nilai karakter budaya daerah masing-masing. Selama ini yang sering ditonton oleh kebanyakan pelajar, justru film-film bersifat kurang mendidik,” tutur keduanya. (chacha)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.