PENDERITA GANGGUAN JIWA SEMAKIN BANYAK, KUNINGAN BUTUH LAYANAN KEJIWAAN


Seputarkuningan.com - Kabupaten Kuningan dinilai harus segera memiliki pusat pelayanan kesehatan jiwa. Pasalnya, jumlah penderita gangguan jiwa semakin banyak, mulai dari kategori biasa hingga berat. Data yang terdapat di Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan sebanyak 1.860 orang Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Sebanyak 947 orang yang diobati sedangkan 913 tidak diobati, sedangkan penderita ODGJ yang mengalami pasung sebanyak 28 orang.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan Raji melalui Kasi penyakit tidak menular dan kesehatanan jiwa  Widiani  mengatakan, ODGJ yang tidak terobati kebanyakan ditemukan tidak memiliki keluarga ataupun memiliki keluarga hanya tidak memiliki kartu JKN KIS.
 " Hal ini masih jadi kendala bagi mereka yang tidak terobati, karena di Kuningan belum ada rumah sakit khusus bagi penderita gangguan jiwa maka kami melakukan MoU dengan rumah sakit yang berada di luar Kuningan. Pihak Dinkes telah berupaya mengajukan JKN KIS bagi mereka hanya saja hingga saat ini belum terealisasi. Untuk sementara bagi mereka yang tidak memilik JKN KIS dapat dibantu dengan dana Jamkesda,"  kata Widiani kepada Seputarkuningan.com Kamis (22/2/2018).
Menurut Widiani,  gangguan jiwa adalah masalah otak yang bisa disembuhkan. Akan tetapi, penyakit gangguan kejiwaan memang belum ditanggapi secara serius, karena minimnya pemahaman dari masyarakat.
“Masih ada kesan, kalau gangguan jiwa itu bukan urusan dokter tapi lebih cenderung pada penanganan spiritual. Makanya, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) masih banyak yang dibiarkan begitu saja,” ujar Widiani.
Widiani menilai, gangguan jiwa terus menjadi permasalahan yang kompleks. Masyarakat masih belum bisa menerima penyakit tersebut secara medis. Kecenderungan cara penyembuhan ODGJ pun, masih dipercaya dapat dilakukan oleh ahli spiritual.
Oleh karena itu, selama pemahaman masyarakat masih minim terkait penyakit gangguan jiwa, maka akan semakin banyak ditemukan permasalahan serupa. Maka dari itu, keberadaan pusat pelayanan kesehatan jiwa pun dinilai perlu direalisasikan.
Selain membutuhkan pusat pelayanan kesehatan, Widiani menyebutkan jika Kuningan juga masih membutuhkan dokter spesialis kejiwaan. Soalnya, dari ketujuh rumah sakit yang ada di Kuningan belum ada pelayanan khusus bagi penderita jiwa dan saat ini hanya ada 1 dokter spesialis kejiwaan yang bekerja di RSUD 45 untuk melayani puluhan pasien setiap hari.
“Kami berharap ada dokter jiwa di setiap kecamatan,  itu ada tempat perawatan dengan minimal, ada 1 dokter di tiap 3 kecamatan,” harap Widiani. (Chacha)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.